Senin, 13 Desember 2010

Learn


Kemaren gw duduk berdampingan dengan seorang bapak2 umurnya sekitar 50 an, dia tunanetra, waktu di Kereta argo parahyangan menuju ke bandung, badanya mandi keringat sampai tercium di hidung gw, terlihat capek sekali dan raut mukanya bingung, kecewa dan rada emosi. setelah kereta jalan beberapa kilometer gw tanya tuh si bapak, dari mana dan bandungnya dimana. dia bercerita singkat, dia dari bandung ke jakarta mencari dana buat bayar uang sekolah anaknya dan gak membuahkan hasil, dengan jawaban yang jelas tetapi penuh dengan rasa kecewa, pakaiannya rapi, bawa tas tua yang isinya katanya persyaratan untuk dapetin dana tersebut. mungkin karena kecapean dia tertidur. setelah keliatan bangun gw tanya lagi, emang dah kemana aja pak ngajuainya, dia cerita dari situ tuh, mungkin dah rada redaan bingung n capenya dengan tidurnya tadi....kerja si bapak cuma seorang pemijit, istrinya tunanetra jg, anaknya sekarang ga ikut ujian karena telat membayar uang sekolah, kelas 3 ngambil jurusan akuntansi di smk swasta daerah maleber bandung. dia tinggal di daerah jl padjadjaran bandung. karena akhir-akhir ini pelangganya lagi sepi, ga punya duit, dan sekolah nekan trus akhirnya si bapak kesana kemari minta bantuan. si Bapak baru pertama kali ke jakarta, katanya nyasar kesana sini. dan udah dua tempat dia kunjungin, dan itu tempat2 ormas juga tempat pemerintahan, di daerah condet dan jl sisingamangaraja. kata gw kenapa ga coba di bandung dulu aja pak, dia jawab "udah keliling-keliling kang", tapi sama aja katanya, alasanya beragam, mulai dari dananya lagi ga ada, si pak ketuanya lagi keluar kota, ama persyaratanya kurang dll, emang bapak minta dana berapa ke mereka, tanya gw. "285 ribu, ga lebih kang". trus bapak ke jakarta bawa uang berapa, tanya gw lagi. "75 ribu kang, itu pas2an banget kang", sambil kebingungan lagi dan raut muka kecewa si bapak nampak lagi. Pilu banget gw ngeliat si bapak ini, dia sangat bertanggung jawab pada keluarganya. Dia ga mengeluh bahkan meminta2 seperti halnya banyak pengemis di sekeliling kita. dia ga banyak bicara, sekali berbicara, dia menunjukan kewibawaan seorang suami dan lelaki yang rela berkorban demi keluarganya. kalau gw jadi anaknya, gw bangga punya bapak seperti dia. Mungkin ini pelajaran buat gw, di awal umur baru gw.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar